Ketika doa-doa diucapkan dalam Misa Pentakosta sore itu, saya percaya, selama jagung, padi, dan kacang tanah masih dipersembahkan dengan tulus, Wini akan tetap tegak berdiri.
Sebab, di perbatasan Wini, mencintai Tuhan, budaya, alam dan sesama, adalah cara paling romantis untuk mencintai Indonesia.(***)




