Rombongan masyarakat berbaris rapi, membawa semua hasil bumi dan laut berjalan, berarak menuju gereja diiringi suara gong dan gendang yang ditabuh ibu-ibu dengan penuh semangat bersahutan dengan gemerincing giring-giring yang terpasang di kaki para pemuda yang menari, begitu merdu dan syahdu, menciptakan irama kehidupan yang magis. Saat rombongan masyarakat tiba di gereja, tetua adat menyampaikan tutur adat, menyerahkan hasil bumi kepada Pastor Paroki yang direpresentasikan sebagai perpanjangan tangan sang pencipta di bumi. Dalam momen ini, saya melihat kedaulatan yang sesungguhnya.
Dalam perspektif pengelolaan kawasan perbatasan hal ini bukan sekedar pengelolaan tanah dalam ruang batas wilayah negara, melampauinya ini tentang bagaimana manusia di perbatasan memuliakan tanah tempat mereka berdiri.
Melihat antrean umat dengan hasil bumi di tangan, saya teringat pemikiran Marcel Mauss, seorang antropolog klasik, dalam teorinya tentang The Gift. Mauss berpendapat bahwa dalam masyarakat tradisional, pemberian bukanlah transaksi ekonomi semata, melainkan mekanisme untuk menciptakan ikatan sosial yang tak terputuskan. Ini menjadi alasan mengapa di desa dan perbatasan, tamu selalu diterima dengan ramah, penuh kekeluargaan sekalipun mereka sering memberi dari kekurangan, sebuah bentuk hospitality tingkat tinggi.




