Di tangan dan kepala mereka, tak ada pita rambut dan bando mahal atau gawai canggih, tetapi hanya hasil bumi: padi, jagung, labu, pepaya, pinang, ikan kering, ubi kayu, hingga kacang tanah. Inilah Tradisi Tatama Maus, Neo Uis Neno. Sebuah persembahan hasil bumi tahunan dari petani dan nelayan kepada pemberi hidup dan yang menyatu dalam detak Pentakosta, peringatan turunnya Roh Kudus kepada para murid Yesus Kristus yang kemudian membentuk gereja Katolik. Jika kita melihatnya dengan kacamata antropologi, ini adalah praktik timbal-balik (reciprocity) antara manusia dan Sang Pencipta. Hasil bumi dan laut bukan sekadar komoditas; ia adalah keringat, doa, dan napas kehidupan yang dikembalikan kepada Pemilik Semesta.
Sosiolog pedesaan James Scott mungkin akan menyebut tradisi ini dan tradisi persembahan serupa yang dapat kita temui ada dihampir semua peradaban sebagai bentuk moral economy of the peasant.
Bagi masyarakat Wini dan mungkin sebagian besar masyarakat Rural, mereka tidak sekadar bertani untuk pasar/ekonomi, melainkan untuk menjaga keberlangsungan komunitas. Bagi mereka, hasil bumi bukan komoditas dingin, melainkan “modal sosial” yang sakral, sebagaimana ditegaskan Pierre Bourdieu bahwa modal tidak selalu berbentuk uang, melainkan juga modal simbolik yang diperoleh melalui partisipasi dalam ritus budaya.





