Di Wini, Tatama Maus adalah wujud nyata dari total social phenomenon; sebuah ritus yang sekaligus menjadi pernyataan iman, pengikat solidaritas komunitas, dan pengakuan atas ketergantungan manusia pada alam.
Tatama Maus di tengah Kepungan El Niño, Namun keindahan ritual ini terancam tidak akan bisa dilaksanakan di tahun depan, Wini dan sebagian besar wilayah di Indonesia sedang menatap tantangan klimatik besar, El Niño 2026 diprediksi membawa musim kering yang panjang dan ekstrem.
Sebagai ASN yang bertugas di PLBN Wini, saya melihat ada dua pendekatan yang mungkin bias dipertimbangkan pemangku kepentingan untuk menjadi solusi napas panjang bagi warga Wini dan warga perbatasan lain dalam menghadapi El Nino:
1. Border Tourism: Merayakan Kearifan yang Menjual
Wini harus mampu bertransformasi dari kawasan perbatasan yang kental dengan pendekatan keamanan dan pertahanan menjadi kawasan wisata dan menjadi pusat cultural tourism yang otentik di kawasan perbatasan dengan multi pendekatan, salah satunya tentu prosperity. Daya tarik utama pariwisata perbatasan adalah authenticity (keaslian), pariwisata di kawasan perbatasan tidak boleh menjadi komodifikasi budaya yang dangkal, melainkan harus berbasis pada community-based tourism yang menempatkan masyarakat sebagai subjek, bukan objek. Dalam konsep tourism mengamanatkan keharusan adanya tiga A oleh sebuah destinasi wisata, yakni Akses: infsratruktur, telekomunikasi, keamanan, Amenitis: penginapan dan restoran serta Atraksi : dapat berupa objek wisata bisa berupa alam atau buatan maupun atraksi budaya atau atraksi kontemporer. Kawasan Perbatasan Wini sekiranya telah memenuhi ketiga syarat ini.




