Oleh: Reynold Uran, SSTP.,M.Sc, C.Me. Kepala Bidang Pengelolaan PLBN Wini
KEFA, 31NUSANTARA.ID- Pentakosta dan Tatama Maus, ritual bersanding tradisi.
Minggu sore, 24 Mei 2026, matahari di Wini tidak sekadar terbenam; ia seperti sedang membasuh cakrawala dengan warna emas kemerahan yang tumpah ke bumi.
Di kawasan perbatasan RI-RDTL ini, angin membawa aroma tanah kering, namun tidak dengan hati orang-orang Wini yang justru sedang basah oleh rasa syukur kepada pencipta. Hari ini, Gereja Paroki St. Fransiskus Xaverius menjadi saksi bisu sebuah pertemuan agung: antara perayaan Pentakosta Gereja Katolik dengan pelaksanaan tradisi masyarakat Wini: Tatama Maus, ketika iman yang menjulang ke langit berpadu tradisi yang berakar dalam ke tanah.
Mengenakan balutan kain adat yang bersahaja dengan motif yang beragam sesuai asal suku dipadukan dengan atasan merah yang menyala selaras dengan warna liturgi perayaan Pentakosta, umat telah berkumpul sejak pukul 15.00 WITA di sepanjang jalan Miguel Lopez, jalan yang sama menuju Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan Distrik Oekusi Timor Leste.
Secara sosiologis, pemandangan ini adalah representasi dari solidaritas organik. Mereka berkumpul berdasarkan lingkungan tempat dimana mereka tinggal dan hidup, mengikat tali persaudaraan yang tak lekang oleh garis negara.




