Arus investasi portofolio juga menunjukkan perkembangan yang beragam. Pada triwulan III 2026, investasi portofolio asing mencatat arus keluar bersih sebesar 0,08 miliar dolar AS, terutama akibat tekanan di pasar saham. Namun, hingga 19 Oktober, investasi portofolio pada triwulan IV tercatat mengalami arus masuk bersih sebesar 0,66 miliar dolar AS, didukung aliran dana ke instrumen seperti Surat Berharga Negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia. Dinamika tersebut menegaskan pentingnya menjaga kepercayaan investor melalui kebijakan yang konsisten, transparan, dan dapat diprediksi.
BI juga mencatat bahwa sejak penerapan insentif lindung nilai pada Juni hingga 20 Oktober 2026, kebijakan tersebut telah menarik aliran modal asing sekitar 9,9 miliar dolar AS. Selain itu, pengembangan transaksi mata uang lokal dengan negara mitra diarahkan untuk memperluas pilihan penyelesaian perdagangan dan investasi tanpa selalu bergantung pada dolar AS. Diversifikasi tersebut dapat membantu mengurangi sebagian risiko transaksi internasional, meskipun tidak menghilangkan pengaruh dolar terhadap pasar keuangan domestik.
Menjaga stabilitas rupiah merupakan proses berkelanjutan yang membutuhkan kerja sama antarlembaga dan respons terhadap perkembangan pasar. Cadangan devisa yang memadai, instrumen moneter yang fleksibel, koordinasi fiskal, serta pengendalian inflasi menjadi modal penting untuk menghadapi tekanan eksternal. Dengan kebijakan yang terukur dan komunikasi yang transparan, pemerintah dan BI dapat memperkuat ketahanan ekonomi sekaligus mengurangi dampak gejolak nilai tukar terhadap masyarakat dan dunia usaha.



