MALAKA, 31NUSANTARA.ID -Pembangunan Tanggul Oanmane membawa dampak buruk bagi para petani di Desa Oanmane Kecamatan Malaka Barat Kabupaten Malaka. Puluhan hektar lahan jagung terlantar karena tanah bergaram sehingga tidak bisa diolah.
Tokoh masyarakat Malaka Barat, Anderias Nahak Seran kepada media ini, Selasa (3/11/26) mengatakan pembangunan tanggul di Desa Oanmane memunculkan masalah dilematis. Di satu sisi, tanggul berfungsi mencegah dampak bencana banjir. Namun di sisi lain, menyisahkan masalah pertanian.
Dikatakan, pembangunan tanggul tanpa kajian pengurangan resiko bencana (PRB), menyebabkan puluhan hektar lahan jagung di Desa Oanmane dan wilayah sekitarnya ditelantarkan, karena tanahnya bergaram. Tanah bergaram dipicu tidak adanya humus tanah yang biasanya dibawa banjir Sungai Benenain.
Hilangnya humus tanah menyebabkan para petani tidak bisa menanam pada musim tanam (MT) I, II dan III. “Di Malaka, biasanya ada MT III. Karena mengandalkan humus tanah yang dibawa banjir. Para petani tidak bisa tanam, karena tanah sudah bergaram,” tandas Anderias.
Sehingga, pemerintah yang ingin membangun tanggul, seharusnya melakukan kajian PRB agar tidak menimbullan masalah baru yang merusak aset-aset penghidupan manusia. “Bangun tanggul harus dalam kerangka penanggulan bencana, agar tidak muncul masalah baru,” lanjutnya.





