Festival Budaya Oeba Jadi Panggung Keberagaman

Reporter: Tamar Ndapatady/vd 
| Editor: Pisto Bere

Salah satu pesan yang ditekankan Wali Kota adalah pentingnya mengubah cara pandang dalam menjaga kebudayaan. Menurutnya, budaya tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu yang dapat digunakan tanpa tanggung jawab. Budaya harus dilihat sebagai sesuatu yang dipercayakan kepada generasi sekarang untuk diteruskan kepada generasi berikutnya.

“Budaya itu bukan hanya warisan dari leluhur kita, tapi pinjaman dari anak cucu kita. Mindset kita harus begitu,” tuturnya.

Bacaan Lainnya

Ia kemudian menggunakan analogi sederhana untuk menjelaskan pentingnya menjaga budaya.

“Kalau kita berpikir ini hanya warisan, kadang kita suka-suka pakainya. Tapi kalau kita sadar bahwa ini adalah pinjaman dari anak cucu kita, maka kita wajib menjaganya baik-baik karena suatu hari nanti mereka akan memintanya kembali,” jelas dr. Christian.

Dengan latar masyarakat yang beragam, Wali Kota menyebut Kelurahan Oeba sebagai gambaran kecil dari wajah Kota Kupang. Beragam agama, etnis dan suku hidup berdampingan dalam satu ruang sosial. Kondisi tersebut, menurutnya, harus dirawat sebagai kekuatan kota, bukan dipandang sebagai perbedaan yang memisahkan.

“Kelurahan Oeba ini miniaturnya Kota Kupang. Tadi Pak Ketua Panitia menyampaikan ada semua agama, etnis, dan suku di sini. Keberagaman di Kota Kupang bukan jadi penghalang, tetapi jadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan,” kata dr. Christian.

Pos terkait