Festival Budaya Oeba Jadi Panggung Keberagaman

Reporter: Tamar Ndapatady/vd 
| Editor: Pisto Bere

Namun, bagi Wali Kota, kemeriahan festival bukan tujuan akhir. Di balik pentas seni, karnaval dan perayaan budaya, terdapat pesan yang jauh lebih besar, membangun kota berarti membangun manusianya.

Ia menegaskan, ukuran kemajuan sebuah kota tidak cukup hanya dilihat dari pembangunan fisik, jalan yang semakin baik, gedung yang semakin tinggi atau fasilitas publik yang semakin lengkap.

Bacaan Lainnya

“Membangun sebuah kota itu bukan hanya membangun fisiknya, tapi harus membangun manusianya juga. Kita tidak bisa bilang kota kita ini sudah maju hanya karena jalan-jalannya bagus, gedung-gedungnya tinggi, jembatannya banyak, atau eskalatornya sudah ada sepuluh. Belum tentu,” tegasnya.

Menurutnya, pembangunan harus menyentuh kualitas pendidikan, kesehatan, kebersihan, karakter, toleransi hingga ruang kreativitas masyarakat.

“Bagaimana dengan manusianya? Apakah pendidikannya baik? Apakah kesehatannya baik? Kebersihan kotanya baik? Apakah warganya saling menghargai? Apakah yang muda menghormati yang lebih tua? Apakah mereka saling toleransi dan punya ruang untuk berkreasi serta mencipta seperti malam hari ini?” lanjutnya.

Karena itu, ia menilai festival budaya seperti yang digelar masyarakat Oeba memiliki nilai penting dalam pembangunan Kota Kupang. Kebudayaan menjadi ruang pendidikan karakter sekaligus ruang bagi masyarakat untuk bertemu, berekspresi dan membangun rasa memiliki terhadap kotanya.

Pos terkait