“Anak-anak yang saya banggakan, hari ini kegiatan kita tutup. Tetapi pembelajarannya tidak berhenti sampai di sana. Karena ruang digital sudah menjadi bagian dari kehidupan kalian. Di sana kalian belajar mencari informasi, berkomunikasi, berteman, dan beraktivitas,” ujarnya.
Hengky mengingatkan bahwa di balik berbagai manfaat teknologi digital, terdapat pula risiko yang perlu diwaspadai, mulai dari perundungan siber atau cyberbullying, penipuan, penyalahgunaan data pribadi, hingga paparan konten yang tidak pantas.
Karena itu, menurutnya, menjadi anak hebat di era digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, mengendalikan diri, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan di ruang digital.
“Anak yang hebat di era digital bukan hanya soal pintar menggunakan teknologi, tetapi juga tahu kapan harus berpikir, kapan harus berhenti, dan kapan harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Ia juga mengajak para siswa untuk membangun budaya saling menghargai dan tidak ikut melakukan perundungan terhadap orang lain di dunia maya.
“Kalau ada teman yang berbeda, jangan dihindari. Kalau ada yang melakukan kesalahan, jangan dipermalukan. Kalau melihat bullying, jangan ikut menertawakan. Bantu dan lakukan sesuatu untuk menghentikannya,” ajaknya.





