Di belakang panggung, sejumlah dokter muda yang sedang bertugas di Malaka juga ikut memberikan dukungan. Salah satunya Dr. Jefry, yang mengambil bagian dari balik layar. Dukungan juga datang dari jajaran kepolisian, khususnya personel Polantas, yang turut membantu kelancaran dan keamanan kegiatan.
Sementara itu, seluruh rangkaian kegiatan disiarkan secara langsung melalui akun Ersan Kehi, membuka ruang bagi mereka yang tidak hadir di lokasi untuk tetap menyaksikan dan ikut mengambil bagian. Yang dikumpulkan malam itu bukan sekadar uang. Ada rasa sepenanggungan yang dititipkan melalui setiap lembar rupiah yang masuk ke kotak donasi. Hasil donasi dari konser amal ini disalurkan kepada PMI Kabupaten Malaka untuk selanjutnya dibawa oleh para relawan ke lokasi bencana.
Dengan demikian, perjalanan solidaritas itu tidak berhenti di belakang panggung Lapangan Betun. Ia akan bergerak lebih jauh, menuju mereka yang sedang membutuhkan di lokasi bencana.
Bagi para penggagas, inilah cara mereka mengambil bagian. Mereka tidak memiliki banyak hal untuk dibawa ke lokasi bencana. Tetapi mereka memiliki komunitas, musik, jaringan pertemanan, dan kemauan untuk bergerak.
Malam itu, musik akhirnya menjadi bahasa solidaritas. Dari sebuah percakapan di Hemu Kopi, gagasan kecil tumbuh menjadi sebuah gerakan. Dari tangan para talent, musik mengalir ke panggung. Dari tangan masyarakat, donasi masuk ke kotak-kotak yang diedarkan OMK. Dan dari Malaka, bantuan itu akan diteruskan menuju Flores.
