Mereka tidak datang membawa konsep acara yang sudah jadi. Mereka hanya membawa kegelisahan dan pertanyaan sederhana: apa yang bisa dilakukan anak-anak muda Malaka dengan apa yang mereka punya?
Jawabannya adalah musik.
Jawabannya perlahan menemukan bentuk: musik.
Jaringan pertemanan kembali disatukan. Komunitas yang pernah berjalan bersama kembali dihubungkan. Tenaga dan kemampuan masing-masing dikumpulkan.
Di tengah kesibukannya meniti karier musik di Jakarta, Verry Klau, sosok yang namanya semakin dikenal luas lewat lagu Lu Kenal Veronika, menyempatkan diri kembali ke Malaka. Kehadirannya bukan sekadar untuk melepas rindu pada tanah kelahiran. Ia juga kembali menemui kawan-kawan muda dan komunitas yang pernah menjadi bagian dari perjalanan karyanya di Malaka, lalu menggerakkan mereka untuk membuat sebuah kegiatan sosial.
Dari perjumpaan kembali itu, lahirlah sebuah panggung untuk Flores. Bukan panggung untuk mengejar sorotan, melainkan panggung untuk mengubah apa yang mereka punya menjadi sesuatu yang berguna bagi orang lain.
Malam kemudian bergerak dari satu penampilan ke penampilan lainnya. Ada Violin M-Idol, Yati M-Idol, Boy M-Idol, Aurora M-Idol, Kiano M-Idol, Maria Ledy, Suci, Icha M-Idol, Asty M-Idol, Humble Rapp, Ical Buga Rapp, Dr. Hartya, Respek Band, Moossa Band, dan Police Band. Beberapa nama dalam barisan talent itu adalah jebolan Malaka Idol I dan II. Mereka yang pernah bertemu dalam kompetisi dan panggung pencarian bakat kini kembali berada di atas panggung yang sama, bukan untuk memperebutkan gelar, melainkan untuk menyumbangkan suara dan kemampuan bagi sebuah aksi kemanusiaan.
