“Persoalan stunting ini penanganannya harus komprehensif dari hulu ke hilir. Mencegah itu jauh lebih baik dan efisien daripada mengobati,” ujar dr. Christian.
Ia menjelaskan, intervensi dari hulu harus dimulai sejak usia remaja, terutama melalui edukasi kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, kesiapan menjadi orang tua hingga perencanaan keluarga.
Sekolah, menurut dia, memiliki posisi penting dalam membangun pengetahuan tersebut. Demikian pula lembaga keagamaan yang memiliki kedekatan langsung dengan keluarga dan komunitas.
“Edukasi harus dimulai sejak usia remaja putri di sekolah-sekolah, mencakup kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, hingga pemahaman perencanaan keluarga. Peran sekolah dan lembaga keagamaan seperti gereja sangat penting di sini,” katanya.
Wali Kota juga menyoroti persoalan kehamilan pada usia dini dan munculnya orang tua tunggal di kalangan remaja yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap persoalan stunting. Ketidaksiapan ekonomi, pengetahuan tentang gizi, maupun kesiapan mental calon ibu menjadi faktor yang perlu mendapat perhatian sejak awal.
Dalam konteks itulah, Pemkot Kupang menyambut positif kehadiran Yayasan MEIK Nusantara dan Yayasan Mahanaim yang menawarkan kontribusi nyata bagi persoalan sosial dan kesejahteraan anak.





