Ia menegaskan bahwa kegiatan hari ini menjadi bukti nyata bahwa rumah ibadah bukan hanya tempat berdoa, tetapi juga dapat menjadi pusat penggerak sosial, pusat pemberdayaan umat, serta motor ketahanan pangan dan pelestarian lingkungan. Penanaman anakan tanaman produktif di lingkungan masjid dan gereja, menurutnya, merupakan simbol persaudaraan lintas iman yang tumbuh dalam tindakan nyata.
“Gereja dan Masjid mengambil peran dalam merawat lingkungan, serta menjaga ketahanan pangan. Ini menunjukkan bahwa kerukunan di Kota Kupang tidak berhenti pada wacana, tetapi diwujudkan dalam kerja bersama,” tegasnya.
Wali Kota juga menyampaikan bahwa Kota Kupang berhasil masuk dalam 10 besar Indeks Kota Toleran nasional serta menerima penghargaan sebagai kota damai dan inklusif. Ia menekankan bahwa capaian tersebut bukan semata prestasi pemerintah, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen masyarakat.
“Kerukunan di Kota Kupang bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi sumber kekuatan. Kalau kita mau berjalan cepat, kita berjalan sendirian. Tapi kalau mau berjalan jauh, kita harus berjalan bersama-sama. Dengan gotong royong, kita bisa melampaui berbagai keterbatasan,” ujarnya.
Ia juga menyinggung tantangan efisiensi anggaran, namun menegaskan bahwa hal tersebut harus dijawab dengan kolaborasi dan inovasi. Dengan kebersamaan antara pemerintah, rumah ibadah, komunitas, dan seluruh masyarakat, Kota Kupang diyakini mampu membangun ketahanan pangan yang mandiri dan berkelanjutan.




