Menjaga Nyala dari Ujung Negeri

Reporter: Putra Niron 
| Editor: Pisto Bere

_Catatan Putra Niron (Salah Seorang Penggagas Malaka Di Ujung Merah Putih)_

MALAKA, 31NUSANTARA.ID – Kami memulainya dari keresahan dan dari cinta.

Bacaan Lainnya

Tahun 2020, saat pandemi COVID-19 masih menjadi kabar harian dan ruang-ruang perjumpaan dibatasi, kami justru merasa semakin mendesak untuk menciptakan ruang alternatif. Maka, pada 16–17 Agustus 2020, “Malaka di Ujung Merah Putih” untuk pertama kalinya digelar di Pantai Motadikin. Sederhana, terbuka, dan tanpa banyak protokol. Tapi di situlah letak kekuatannya: semua yang hadir datang karena rindu, karena ingin bersuara. Selain itu, di tengah semangat kemerdekaan yang kadang terasa begitu jauh dari kehidupan kami di perbatasan, kami berpikir: mengapa tidak bikin panggung sendiri? Panggung yang tidak menunggu undangan, tidak bergantung pada seleksi. Panggung yang cukup luas untuk puisi, musik, diskusi, rindu, dan marah. Begitulah “Malaka di Ujung Merah Putih” lahir. Tanggal 16–17 Agustus, di pinggiran republik, tapi semangatnya tak pernah pinggiran. Kegiatan ini bukan perayaan biasa. Ia adalah ruang. Ruang untuk anak-anak muda Malaka yang selama ini mungkin merasa tak punya tempat. Ruang untuk bersuara, untuk mengada.

Tahun 2021 menjadi tahun hening. Selain pandemi yang belum reda, Malaka baru saja pulih dari banjir bandang di akhir 2020. Banyak dari kami sibuk menjadi relawan, menolong yang terdampak, menyusun ulang kehidupan yang sempat porak-poranda. Tidak ada energi untuk mempersiapkan panggung. Kami jeda. Tapi kami tidak padam.

https://31nusantara.id/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251217-WA0045.jpg

Pos terkait