Kehadiran berbagai unsur tersebut menambah khidmat sekaligus menjadi bentuk dukungan dan doa bagi kedua mempelai dalam memasuki kehidupan rumah tangga.
Prosesi pemberkatan dipimpin oleh Pdt. Joseph Andreas Manobe, S.Th. Dalam khotbahnya, ia mengingatkan kedua mempelai bahwa kehidupan manusia dipenuhi berbagai keadaan yang silih berganti, seperti sehat dan sakit, susah dan senang, marah dan sukacita. Karena itu, setiap orang dipanggil untuk menggunakan waktu dan kesempatan yang diberikan Tuhan dengan bijaksana serta menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.
Mengacu pada Kitab Pengkhotbah, Pdt. Manobe menjelaskan bahwa waktu memiliki makna yang berbeda, yakni kronos sebagai waktu yang terus berjalan dan berulang, aion sebagai rentang waktu yang panjang hingga kekekalan, serta kairos sebagai kesempatan khusus yang diberikan Tuhan dan tidak terulang. Hikmat, menurutnya, terletak pada kemampuan manusia mengenali dan menggunakan setiap waktu dengan tepat.
Khusus dalam kehidupan pernikahan, Pdt. Manobe menekankan pentingnya rasa syukur terhadap pasangan, kebersamaan, serta waktu berkualitas. Pernikahan merupakan proses belajar yang tidak pernah berhenti karena kedua pasangan akan terus bertumbuh dan mengalami perubahan. Karena itu, Serena dan Gilbert diingatkan untuk terus belajar memahami, menghormati, dan mendukung satu sama lain, termasuk dalam menjalankan tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab masing-masing.




