Kesimpulan: Memulangkan “Habibie Baru”
Mengabaikan Prof. Sherly adalah kerugian nasional. Sudah saatnya pemerintah melakukan jemput bola. Bukan sekadar undangan seremonial, melainkan integrasi nyata: jadikan beliau konsultan strategis nasional untuk manajemen bencana di wilayah tertinggal, berikan ruang bagi metodologinya untuk diterapkan secara masif di NTT, dan akui statusnya sebagai Profesor Riset termuda yang mengharumkan nama bangsa.
Jika kita terus mengabaikan mereka yang berprestasi di panggung dunia, jangan salahkan jika generasi muda terbaik kita memilih untuk berkarya bagi bendera lain. Prof. Sherly adalah ujian bagi komitmen Indonesia terhadap sains. Apakah kita akan merangkulnya, atau membiarkannya tetap menjadi “orang asing” di negaranya sendiri?. (***)




