
Ironi di Tanah Air Indonesia seringkali terjebak dalam romantisme masa lalu. Kita memuja almarhum B.J. Habibie sebagai standar emas intelektualitas, namun di saat yang sama, kita seringkali “buta” terhadap kemunculan sosok-sosok serupa di era modern. Salah satu ironi paling tajam saat ini adalah Profesor Riset termuda asal Indonesia Timur ini.
Namun, di Jakarta, namanya nyaris tak terdengar. Di kantor-kantor kementerian yang sibuk merancang kebijakan bencana, risetnya yang berjudul “Building Resilience for Flood Disaster in Malaka-Timor” hanya menjadi tumpukan literatur di Buku dan Jurnal internasional seperti Springer Nature, alih-alih menjadi cetak biru penyelamatan nyawa warga di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Mengapa negara ini seolah “mengabaikan” mutiara hitam dari Timur ini?. Paradoks “Brain Drain” dan Ego Sektoral Masalah utama yang dihadapi Prof. Sherly bukanlah kurangnya nasionalisme, melainkan dinding birokrasi yang tebal.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan kementerian terkait seringkali terjebak dalam ego sektoral yang hanya mengakui peneliti di dalam sistem mereka sendiri. Sementara itu, ilmuwan diaspora sekaliber Sherly, yang memegang lebih dari 110 penghargaan Regional, Nasional dan internasional, dibiarkan berjuang sendirian di panggung global tanpa jembatan untuk pulang.




