“Kebudayaan adalah cara hidup yang terus berkembang, dimiliki bersama oleh kelompok masyarakat, dan diwariskan secara turun-temurun. Tugas kita hari ini adalah merajut warisan budaya tersebut, mengumpulkan, mengidentifikasi, dan memperkaya nya agar terus berkembang menghadapi tantangan zaman,” ujar Yanuar.
Ia menilai keberlanjutan budaya sangat bergantung pada proses pewarisan antargenerasi. Karena itu, generasi tua memiliki peran penting untuk membimbing anak-anak muda agar mengenal dan menguasai berbagai keterampilan budaya yang dimiliki masyarakat.
Seni menenun, tarian, nyanyian daerah, maupun tradisi lokal lainnya, kata dia, tidak boleh berhenti pada satu generasi. Nilai dan keterampilan tersebut harus terus diturunkan sehingga identitas budaya masyarakat tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Yang menarik, kekayaan budaya Nunhila juga hidup dalam lingkungan masyarakat yang beragam. Meski secara demografis masyarakat Kelurahan Nunhila didominasi etnis Sabu, Yanuar mengingatkan bahwa keberagaman merupakan kekuatan penting dalam membangun Kota Kupang.
“Kota Kupang hidup dalam keberagaman dan heterogenitas. Perbedaan diciptakan bukan untuk memisahkan, melainkan untuk membuat kita saling melengkapi. Mari kita terus bergandengan tangan dan menjaga persatuan,” katanya.





