Momen mengheningkan cipta tersebut diiringi lagu “Tanah Airku”.
Lantunan lagu itu mengalun di tengah suasana yang sebelumnya penuh dengan semangat perayaan. Para peserta tidak sekadar berdiri dalam diam, tetapi diajak kembali menyadari bahwa tanah air yang mereka rayakan kemerdekaannya sedang menghadapi duka di salah satu bagiannya.
Untuk beberapa saat, Lapangan Misi Betun menjadi ruang perenungan.
Tidak ada sorak-sorai. Tidak ada tepuk tangan. Yang terdengar hanyalah lantunan “Tanah Airku” dan keheningan para peserta sebagai bentuk penghormatan bagi para korban gempa di Flores.
Solidaritas tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk yang lebih konkret. Panitia Komunitas Lafaek Malaka menyediakan kotak donasi di lokasi kegiatan bagi masyarakat yang ingin memberikan bantuan kepada para korban gempa di Flores.
Kotak donasi itu menjadi simbol bahwa kepedulian tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Setiap orang dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya.
Dari doa, keheningan, hingga kepedulian melalui donasi, masyarakat Malaka menunjukkan bahwa perayaan kemerdekaan juga dapat menjadi ruang untuk merawat rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa.
Suasana kemudian semakin menyentuh ketika Musisi ASDM x Sasoka tampil membawakan musikalisasi puisi berjudul “Ketika Pertiwi Menangis.”
