Pemkot Kupang All Out Dukung Pesparawi Perdana Sinode GMIT, dr. Christian Widodo: Perbedaan Justru Melahirkan Harmoni

Reporter: Chris Dethan 
| Editor: Pisto Bere/FD

Ia berharap Simfoni Persaudaraan menjadi ruang koinonia untuk mempererat persekutuan, ruang marturia untuk memperkuat kesaksian Injil, sekaligus bagian dari pembaruan kehidupan liturgi melalui puji-pujian yang dipersiapkan dengan baik. Dalam kompetisi, para peserta juga diingatkan agar tidak semata-mata mengejar kemenangan, tetapi berlomba memberikan penghormatan, kasih dan pengampunan.

Wakil Gubernur NTT, Irjen Pol (P) Dr. Drs. Johni Asadoma, M.Hum., yang juga merupakan sesepuh GMIT, mengapresiasi penyelenggaraan Simfoni Persaudaraan. Menurutnya, paduan suara dan kelompok vokal merupakan bagian penting dalam kehidupan bergereja.

Bacaan Lainnya

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan anak-anak sejak dini karena kegiatan bernyanyi dan memuji Tuhan dapat melatih daya ingat, kemampuan membaca nada, konsentrasi, kerja sama, disiplin dan pembentukan karakter.

Johni berharap Simfoni Persaudaraan tidak berhenti sebagai agenda perdana.

“Semoga ini menjadi Simfoni 1, Simfoni 2 dan seterusnya sepanjang masa,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih atas dukungan Pemerintah Kota Kupang, khususnya bantuan yang diberikan Wali Kota Kupang untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.

Ketua Panitia Simfoni Persaudaraan, Jeffry E. Pelt, S.H., dalam laporannya menyampaikan kegiatan tersebut mengusung tema “Menyanyikan Kasih Setia Tuhan pada Segala Waktu”, yang diturunkan dari subtema pelayanan GMIT 2026, “Bersaksi tentang Allah yang Setia di Tengah Dunia yang Luka.”

Pos terkait