Bagi dr. Christian, dukungan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah untuk memastikan kegiatan masyarakat dan keagamaan dapat berlangsung dengan baik.
Lebih dari sekadar kompetisi paduan suara, Wali Kota melihat Simfoni Persaudaraan sebagai sebuah pelajaran tentang bagaimana masyarakat hidup bersama dalam keberagaman.
Menurutnya, paduan suara menunjukkan bahwa harmoni tidak lahir karena semua suara memiliki karakter yang sama.
“Paduan suara mengajarkan satu hal, bahwa persatuan itu tidak harus menjadi sama. Persatuan bukan menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” jelasnya.
Ia mencontohkan suara tenor, bas, sopran dan alto yang memiliki karakter berbeda. Namun, ketika masing-masing mampu menjalankan perannya, memberikan ruang dan saling melengkapi, perbedaan tersebut justru menghasilkan harmoni.
“Dengan perbedaan itu, kita saling memberikan kesempatan. Kita tahu kapan harus mundur, kapan yang lain maju, kapan kita memberikan ruang, sehingga menjadi satu simfoni yang indah. Itulah kehidupan,” katanya.
Menurut dr. Christian, filosofi tersebut sangat relevan dengan kehidupan Kota Kupang yang dihuni masyarakat dari berbagai latar belakang suku, agama dan budaya.





