“Yang kita butuhkan bukan hanya data, tetapi bagaimana data itu kemudian menjadi dasar untuk mengambil kebijakan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan lintas sektor dalam proses tersebut. Kolaborasi antara Pemerintah Kota Kupang, Bank Indonesia, akademisi, dunia usaha dan perbankan dinilai penting agar pemetaan potensi ekonomi tidak hanya kuat secara akademis, tetapi juga sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Narasumber dari Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Rere Paulina Bibiana, S.E., M.Si., menjelaskan penelitian KPJU merupakan kerja sama Bank Indonesia dengan Fakultas Ekonomika dan Bisnis Unwira dan dilakukan di sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Khusus di Kota Kupang, penelitian mencakup enam kecamatan untuk memetakan komoditas, produk dan jenis usaha potensial dengan mempertimbangkan sejumlah aspek, antara lain pemasaran, ketersediaan bahan baku serta peluang pengembangan.
“Tujuan dari penelitian ini nanti akan menemukan di setiap kecamatan kira-kira produk atau komoditi apa yang merupakan unggulan,” jelas Rere.
Berdasarkan hasil sementara, sektor akomodasi dan makan minum mencatat skor rata-rata tertinggi, yakni 3,912 dari skala 1 sampai 5. Selanjutnya, jasa lainnya memperoleh skor 3,907, perdagangan 3,880, kesenian, olahraga dan rekreasi 3,591, transportasi dan penyimpanan 3,474, serta industri 3,161. Sementara sektor pertanian dan peternakan memperoleh skor 2,092, penerbitan, penyiaran serta produksi dan distribusi konten 1,980, perikanan 1,970, dan kehutanan 0,526.





