Dari sisi harga, inflasi Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan, masih berada dalam sasaran pemerintah sebesar 2,5±1 persen. Inflasi inti juga melambat menjadi 2,56 persen, sedangkan inflasi harga yang diatur pemerintah mencapai 3,24 persen. Meskipun demikian, kelompok pangan bergejolak masih perlu mendapatkan perhatian karena mengalami inflasi 5,81 persen akibat kenaikan harga cabai rawit, cabai merah, dan tomat. Fenomena El Niño yang memperpanjang musim kemarau turut memengaruhi produksi dan ketersediaan sejumlah komoditas pangan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, pemerintah memperkuat koordinasi bersama Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat serta Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Upaya pengamanan pasokan juga dilakukan melalui optimalisasi irigasi, percepatan masa tanam, pemanfaatan lahan produktif, dan penguatan sistem peringatan dini. Menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027, pemerintah turut meningkatkan pemantauan harga serta memperkuat distribusi pangan antardaerah agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi.
Di sektor perdagangan internasional, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 kembali mencatatkan surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS. Hasil tersebut memperpanjang tren surplus selama tiga bulan berturut-turut. Nilai ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS atau meningkat 3,68 persen secara bulanan dan 11,87 persen secara tahunan. Peningkatan ekspor didukung sejumlah komoditas unggulan, seperti batu bara, gas alam, minyak kelapa sawit, karet alam, bijih besi, dan tembaga.
