Pandangan ini ditafsirkan oleh Richard Polt sangat mirip dengan imperatif kategoris ala Kant yaitu suatu perintah tak bersyarat untuk memperlakukan orang lain bukan sebagai sarana tetapi sebagai tujuan pada dirinya sendiri. Kant dalam Grundlegung zur Metaphysyk der Sittens sebagaimana dikutip oleh Reza Watimena mengatakan bahwa manusia haruslah menjadi tujuan pada dirinya sendiri dan tidak boleh diperlakukan sebagai faktor sampingan bagi kepentingan lain entah itu politik ataupun ekonomi. Lalu bagaimana seharusnya relasi dengan manusia? Untuk relasi dengan manusia Heidegger menggunakan istilah concern (Fursorge) kepedulian kepada sesama manusia yaitu pemeliharaan dengan penuh perhatian.
Implikasi Pandangan Heidegger Terhadap Fenomena Human Traficking
Fenomena human trafficking terjadi sesungguhnya karena orang lupa untuk melakukan pembedaan ontologis antara manusia dan alat. Kecenderungan ini sesungguhnya berakar dalam cara berpikir yang berupaya untuk menolak metafisika. Implikasinya segala sesuatu direduksi dan kehilangan nilai intrinsik. Heidegger yang dalam proyek filosofisnya berusaha untuk melakukan “destruksi” atas metafisika tradisional karena melupakan Ada, yaitu menyamakan Ada (Being) dengan ada (being), dan sesungguhnya kelupaan itu menjalar dalam keseharian manusia yaitu dalam taraf ontik. Di mana status ontologis manusia disamakan dengan alat yang pada akhirnya melupakan bahwa sesungguhnya status ontologis manusia sangat bereda dengan alat. Sehingga relasi dengan manusia disamakan dengan relasi dengan alat. Wajah dari kelupaan ini adalah fenomena human trafficking yang di sana dan di sini terus terjadi sehingga terjadi dehumanisasi. Yaitu manusia digunakan atau dieksploitas untuk memperoleh keuntungan bagi pihak tertentu.




