Pandangan Heidegger Tentang Relasi Interpersonal
Secara sederhana relasi interpersonal adalah relasi antar sesama manusia baik itu dua orang atau lebih. Martin Heidegger tentunya tidak berbicara secara langsung tentang relasi antar manusia. Karena proyek filosofis Heidegger adalah menyangkut persoalan tentang Ada. Hal ini dapat kita lacak dalam karya-karyanya dan terutama dalam opus magnum Heidegger yaitu Being and Time (1927). Dalam bagian awal buku tersebut ia sendiri sudah mengatakan tujuan bukunya yaitu “ tujuan dari buku ini adalah menguak pertanyaan atas makna Ada dan menjawabnya secara konkret”. Namun buku itu juga memuat pandangan-pandangan yang memiliki nilai filosofis tinggi terutama dalam hal relasi antar manusia.
Heidegger membedakan bagaimana relasi kita dengan orang lain dan juga dengan alat-alat. Relasi kita dengan alat-alat adalah relasi subjek-objek sedangkan relasi dengan sesama manusia adalah relasi subjek-subjek. Ada dua istilah yang dipakai di sini yaitu concern (Besorgen) dan solicitude (Fursorgen). Pertama kepada alat-alat (Zuhandenes) yang ditemui dalam keseharian, Heidegger menggunakan kata concern, yaitu relasi kita dengan alat di mana manusia menggunakan alat-alat itu untuk keperluan dirinya. Sikap manusia di sini adalah mengurus dengan menangani. Alat-alat di sini bertruktur “supaya” atau “untuk” (Um-zu). Misalnya bulpen untuk menulis, pisau untuk memotong. Dengan menguak struktur alat kemudian menentukan bagaimana relasi manusia dengan alat yaitu memanipulasi atau memperalat. Namun perlu diperhatikan bahwa cara berelasi ini tidak tepat diterapkan kepada manusia, karena cara berada manusia berbeda dengan alat-alat, di mana cara berada manusia bukan “untuk sesuatu” yang lain. Misalnya digunakan untuk memperoleh keuntungan atau pun memperoleh manfaat bagi diri sendiri. Yang menjadi inti persoalan di sini adalah bukan soal baik dan buruk (etis) melainkan lebih dalam lagi yaitu secara ontologis cara berada manusia dan alat itu berbeda. Sehingga tidak tepat manusia memperlakukan sesama manusia lain sebagai objek untuk kepentingan dirinya sendiri. “Entitas-entitas ini bukan merupakan objek yang ditangani, melainkan diperhatikan”. Ketika memperlakukan yang lain seperti alat bukan hanya tidak etis, tetapi tidak sesuai dengan ada-nya.
