Relasi Antara Manusia Ditinjau Dari Perspektif Martin Heidegger dan Implementasi Terhadap Fenomena Human Trafficking

Fakta tentang keberadaan manusia yang tidak bisa dipisahkan dengan orang lain ini juga menghadirkan relasi antar manusia, yang bukan hanya ada bersama tetapi juga berelasi bersama. Sebagaimana dikatakan oleh Martin Buber (1878-1965) dalam bukunya I and Thuo (1970), bahwa manusia bukanlah sesuatu yang tertutup hanya untuk dirinya sendiri. Buber berkata “aku tidak mungkin aku tanpa relasi; Aku bukanlah aku yang terisolasi”. Artinya keberadaan manusia tidak soliter dalam artian tertutup untuk dirinya sendiri, namun selalu berada dalam relasi baik itu bersama benda-benda dan terutama bersama orang lain yang juga bereksistensi serta dengan Tuhan. Kodrat manusia demikian bukan hanya makhluk rasional, melainkan juga makhluk relasional. Relasi itu bukanlah sesuatu yang ditambahkan dari luar melainkan sudah melekat dalam diri manusia sejauh dia ada.

Namun relasi manusia terkadang mengarah kepada dehumanisasi. Dalam situasi saat ini, yaitu era kapitalisme, segala sesuatu direduksi menjadi modal semata. Bahkan manusia pada dirinya sendiri dilihat hanya sebagai modal untuk meningkatkan keuntungan yang tak terbatas, sehingga pada taraf tertentu merendahkan manusia atau terjadi dehumanisasi. Wajah dari kapitalisme dapat kita temukan dalam berbagai bentuk. Secara khusus dalam bentuk human traffiking yang meluas dan menjalar sepanjang sejarah manusia. Dalam situasi ini, kami melihat pemikiran Heidegger cukup relevan untuk digunakan dalam menganalisis fenomena ini, yaitu bagaimana relasi kita dengan manusia yang dipikirkan oleh Heidegger dalam taraf ontologis.

Pos terkait