Ia menegaskan bahwa Paskah merupakan inti iman Kristiani yang menghadirkan harapan baru melalui kebangkitan Yesus Kristus. Oleh karena itu, momentum ini hendaknya menjadi dorongan untuk memperbarui kehidupan, meninggalkan sikap egois, kebencian, dan perpecahan, serta menggantinya dengan kasih, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama.
Menurutnya, iman yang hidup tidak hanya diwujudkan dalam kata-kata, tetapi juga dalam tindakan nyata sehari-hari di tengah masyarakat.
Terkait perayaan HUT ke-28 GMIT Moria Liliba, Serena menyebutnya sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang pelayanan gereja yang sarat dengan dedikasi dan pengorbanan. Ia mengapresiasi peran gereja yang dinilai semakin luas dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Keberadaan gereja tidak terlepas dari lingkungan sosial di sekitarnya. Karena itu, gereja memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk terus menjadi terang dan garam, menjadi pembawa damai, serta menjaga nilai-nilai persaudaraan,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menyinggung pelaksanaan Pawai Paskah yang akan digelar keesokan harinya sebagai wujud kebersamaan dan toleransi masyarakat Kota Kupang. Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat Kristiani, tetapi juga mendapat partisipasi dan antusiasme dari berbagai elemen masyarakat lintas agama.
