Karena itu, ia menawarkan konsep “Wali Kota Challenge” sebagai ruang adu gagasan bagi organisasi kepemudaan, mahasiswa dan komunitas untuk menjawab persoalan nyata di Kota Kupang.
“Anak-anak muda mana yang bisa paling bagus memberikan solusi kepada kami, kami pakai itu sebagai kebijakan,” ujar dr. Christian.
Menurut Wali Kota, pemerintah tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber solusi. Pemerintah justru perlu membuka ruang agar ide-ide terbaik dari masyarakat dapat masuk dan diuji untuk kemudian diterapkan dalam kebijakan publik.
Semangat tersebut, katanya, merupakan bagian dari pola pemerintahan yang menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai mitra.
“Pemerintah tidak harus selalu menjadi sumber solusi. Bisa saja solusi terbaik datang dari masyarakat, dari mahasiswa, dari komunitas, dari anak-anak muda,” katanya.
Ia menilai ruang seperti “Wali Kota Challenge” dapat menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dan kebutuhan nyata pembangunan Kota Kupang.
“Kalau ada persoalan di kota, jangan hanya bilang pemerintah tidak bisa. Mari kita pikirkan bersama, apa solusinya. Kalau solusinya bagus dan bisa diterapkan, pemerintah akan pakai,” ujarnya.
