Senada dengan itu, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Fauzan, menekankan bahwa kampus memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi motor penggerak penyelesaian persoalan kemiskinan dan pengangguran.
“Perguruan tinggi harus menjadi problem solver. Kita harus mengubah paradigma berkompetisi menjadi berkolaborasi. Konsorsium perguruan tinggi di NTT harus melahirkan aksi nyata, bukan sekadar wacana,” tegasnya.
Sementara itu, sambutan Penjabat Gubernur NTT yang dibacakan Plh. Sekda NTT, Ir. Yohanes Oktovianus, menyebutkan angka kemiskinan di NTT masih mencapai sekitar 1,03 juta jiwa, meski kemiskinan ekstrem telah berhasil ditekan menjadi 6,96 persen.
Pemerintah Provinsi NTT terus mengakselerasi pengentasan kemiskinan melalui peningkatan ketepatan sasaran perlindungan sosial, penguatan produktivitas ekonomi masyarakat, serta pengurangan kantong-kantong kemiskinan melalui pembangunan infrastruktur dasar.
Deputi Kemenko PMK, Prof. Abdul Haris, menambahkan bahwa pemerintah pusat menargetkan kemiskinan ekstrem nasional mendekati nol persen melalui pendekatan yang bersifat permanen, yakni penguatan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi sirkular.
Usai mengikuti rakor, Wali Kota Kupang bersama Wakil Wali Kota meninjau stan pameran hasil karya mahasiswa. Salah satu inovasi yang mendapat perhatian adalah produk sabun cuci yang dibuat dari pemanfaatan limbah di sekitar kawasan SPPG sebagai bagian dari penerapan ekonomi sirkular.





