Ia mengajak masyarakat Kota Kupang untuk terus merawat keberagaman sebagai kekuatan, bukan menjadikannya sebagai alasan untuk membangun jarak.
“Keberagaman di Kota Kupang ini tidak pernah menjadi penghalang, tetapi selalu menjadi kekuatan. Tidak pernah menjadi jarak pemisah, tetapi selalu menjadi jembatan. Itulah keberagaman yang ada di Kota Kupang, dan mari kita jaga terus,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota juga menyampaikan apresiasi khusus kepada PSMTI dan warga etnis Tionghoa yang selama ini turut berkontribusi dalam kehidupan sosial dan pembangunan Kota Kupang.
Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok, suku, agama atau etnis, melainkan oleh seluruh elemen bangsa yang mampu bekerja bersama dalam perbedaan.
“Perjuangan bangsa ini tidak lepas dari peran seluruh elemen masyarakat, termasuk warga etnis Tionghoa. Bangsa ini ada sampai hari ini bukan karena satu suku, satu agama atau satu etnis, tetapi karena banyak suku, banyak agama dan banyak etnis mampu bekerja bersama,” tuturnya.
Menurutnya, kontribusi masyarakat melalui kegiatan sosial seperti yang dilakukan PSMTI merupakan bagian penting dari semangat membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama.
Ia mengibaratkan keberagaman Kota Kupang seperti taman yang indah karena memiliki banyak warna bunga. Demikian pula kain tenun yang justru menjadi indah karena tersusun dari berbagai warna benang yang dirangkai dalam harmoni.
