Ia menilai Program OVOP membawa pesan kuat bahwa setiap kampung memiliki potensi, setiap lorong memiliki harapan, dan setiap warga memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Persoalan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan lingkungan, menurutnya, kini dapat dilihat dari perspektif baru sebagai sumber nilai tambah dan peluang ekonomi.
“Atas nama Pemerintah Kota Kupang, kami memberikan apresiasi tinggi. Di setiap keterbatasan ada jalan keluar, di setiap hambatan ada peluang. Sampah yang menjadi masalah hari ini bisa menjadi produk bernilai,” tegasnya.
Wali Kota juga meminta kelompok penerima bantuan agar memanfaatkan alat dan pelatihan dengan sungguh-sungguh. Ia bahkan menyatakan secara pribadi memesan dua set sofa hasil produksi kelompok tersebut dan meminta agar satu produk dipajang di Dekranasda Kota Kupang sebagai etalase promosi kerajinan lokal.
Sementara itu, Gubernur NTT dalam sambutannya menegaskan bahwa Program OVOP dirancang sebagai bagian dari strategi kolaborasi antara pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi telah mengalokasikan total anggaran sebesar Rp20 miliar, dengan skema dukungan rata-rata Rp20 juta untuk setiap desa atau kelurahan, yang difokuskan pada lahirnya satu produk akhir unggulan sebagai identitas lokal.




