Usai Mendedikasi Dirinya Untuk Negara Kompol (Purn) Benedikstus Min Umrisu Tei Seran Kembali Ke Kampung Halamnya Menjadi Seorang Toko Adat ” Liurai Wehali Ke-17″ di Kabupaten Malaka. 

Reporter: Pisto Bere/Roby Koen 
| Editor: Pisto Bere

Kedatangan Liurai Wehali Benediktus ke Tafatik Batane Umakatahan untuk mendapat pengurapan atau kaba merupakan bagian dari proses ritual adat terakhir sebelum menuju acara pengukuhan atau penobatan.

Proses panjang persiapan menuju penobatan Liurai Wehali telah melalui serangkaian perjalanan dan ritual adat di beberapa Sonaf atau Tafatik yang dapat dibagi dalam tiga (3) kali perjalanan; Pertama; Perjalanan ke Tafatik Builaran, Naibone dan Fatuao, Kedua; Perjalanan ke Tafatik Kakaniuk dan Ana Metan, Ketiga; Tafatik Kateri dan Umakatahan.

Bacaan Lainnya

Makoan As Manulea, Nai A’aat mengatakan bahwa proses perjalanan dan ritual adat berjalan baik, mendapat restu dan pengakuan dari berbagai Sonaf atau Tafatik yang dikunjungi Liurai Wehali Benediktus Min Umrisu Tei Seran

Liurai Wehali yang didampingi oleh beberapa Kepala Suku, diurapi oleh Fukun Tafatik Batane, Agustinus Seran dan dilanjutkan dengan makan adat bersama. Beberapa Kepala Suku yang mendampingi dan mengantar Liurai Wehali adalah Kepala Suku Nai Sau, Kato, Abanit, Angket dan Oepikan. Selain itu, turut hadir Makoan dari As Manulea yang biasa disebut Nai A’aat.

Setelah proses ini selesai, Tetua Adat, Fukun dan Makoan akan berembuk bersama dan meminta petunjuk leluhur mengenai waktu yang tepat untuk acara pengukuhan atau penobatan Liurai’, Urai Nai A’aat.

Pos terkait