Tatama Maus, Neo Uis Neno: Saat Doa Bertemu Tanah, Merayakan Hidup di Ujung Batas Negara

Reporter: Reynold Uran, SSTP.,M.Sc, C.Me. 
| Editor: Redaksi

Pemerintah bisa mengadopsi Small-Scale Resilient Infrastructure (SSRI). Sesuai semangat Tatama Maus, pemerintah dapat membangun untuk masyarakat, infrastruktur skala mikro, seperti embung desa dan sistem irigasi hemat air serta lumbung pangan lokal yang modern namun berbasis kolektivitas desa/yang dikelola secara kolektif oleh warga. Jika setiap lingkungan memiliki cadangan pangan yang dikelola secara kolektif (seperti saat umat membawa hasil bumi ke gereja), maka kekeringan ekstrem bukanlah momok yang mematikan tetapi menjadi tantangan yang akan dihadapi bersama-sama sebagai anak bangsa di kawasan perbatasan. Pendekatan ini tentu sejalan dengan pendekatan Resource Orchestration Theory dari Sirmon et al., yang menyatakan bahwa efisiensi di tengah keterbatasan anggaran hanya bisa dicapai jika pemerintah/manajer mampu mengorkestrasi sumber daya yang tersedia—dalam hal ini, mengintegrasikan modal sosial warga dengan bantuan teknis dari pusat.

Akhirnya dari tradisi Tatama Maus di Wini, kita dapat belajar bahwa kedaulatan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari patok batas yang kokoh dan kuat atau pos lintas batas negara yang indah dan megah, tetapi juga dari ketangguhan perut rakyatnya dan kemurnian jiwanya dalam merawat tradisi.

Pos terkait