Dengan pendekatan Collaborative Governance, Pemerintah bisa mengajak seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat, untuk mengemas Tatama Maus sebagai atraksi pariwisata berbasis komunitas, melalui prinsip “interpretasi budaya,” di mana pengunjung tidak saja hanya menonton dan memotret kebersahajaan masyarakat desa tetapi ikut diajak masuk lebih dalam untuk memahami filosofi di balik ritual persembahan. Jika dunia luar bisa melihat bagaimana masyarakat perbatasan Wini menjaga harmoni dengan alam melalui berbagai ritual termasuk ritual Tatama Maus sekaligus menikmati landscape alam Wini yang eksotis, perpaduan pantai dan gugusan bukit batu, maka kemungkinan Wini akan dikenal bukan karena keterbatasannya, tapi karena kekayaan modal social dan kecantikan alamnya. Ini akan membuka akses ekonomi baru bagi warga melalui bisnis homestay, food and beverage dan kerajinan lokal tanpa harus merusak struktur desa.
2. Ketahanan Pangan: Menghidupkan Kembali “Lumbung Masa Depan”
El Niño sedang mengancam panen masyarakat dan apabila ini terjadi tradisi Tatama Maus berpotensi tidak bisa dilakukan pada perayaan Pentakosta tahun depan mungkin dapat menggerus nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat salah satunya terkait relasi umat dan pemberi hidup. Dalam tataran praktis masyarakat di kawasan perbatasan yang relatif miskin tidak bisa selalu bergantung pada pasokan logistik dari luar yang mahal dan rentan guncangan. Menghadapi ancaman gagal panen akibat El Niño, kita harus merujuk pada pemikiran ekonom Amartya Sen, yang menekankan bahwa kemiskinan sering kali bukan disebabkan oleh kurangnya uang, melainkan kurangnya akses terhadap infrastruktur dasar serta merujuk pemikiran World Bank dan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) yang menyatakan bahwa produktivitas pertanian modern dipengaruhi oleh infrastruktur pertanian yang memadai seperti irigasi, jalan usaha tani, fasilitas dan penyimpanan, jaringan listrik dan teknologi bahkan mendorong industri pengolahan pasca panen.
