Namun, tekanan eksternal tetap perlu diperhatikan. Analis mata uang Ibrahim Assuabi menyebut ketidakpastian hubungan Iran dan AS serta risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi global.
“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” ujar Ibrahim Assuabi, analis mata uang.
Selain geopolitik, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat juga memengaruhi pergerakan dolar. Sikap sejumlah pejabat Federal Reserve yang cenderung mempertahankan suku bunga tinggi membuat investor tetap mencermati perkembangan inflasi dan ketenagakerjaan AS.
Dari dalam negeri, Tim Ekonom BCA menilai pelemahan rupiah, arus modal asing yang keluar, serta risiko inflasi impor dapat mendorong Bank Indonesia mengambil kebijakan moneter lebih ketat.
“Oleh karena itu, kami mempertahankan pandangan bahwa Bank Indonesia mungkin akan menyampaikan kenaikan suku bunga acuan (policy rate hike) lagi untuk menjaga stabilitas eksternal dan menenangkan pasar domestik,” menurut Tim Ekonom BCA dilansir dari CNBC Indonesia.
Tim Ekonom Permata Bank juga memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada November 2026 sehingga BI-Rate mencapai 6,00 persen.
