JAKARTA – Kondisi perekonomian Indonesia dinilai masih memiliki fondasi yang kokoh setelah mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,47 persen secara tahunan pada triwulan III 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut capaian tersebut ditopang oleh kinerja industri manufaktur, stabilitas harga, peningkatan ekspor, serta aktivitas perdagangan yang tetap berkembang meskipun situasi ekonomi global masih diwarnai ketidakpastian.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa sejumlah lapangan usaha memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Industri pengolahan menjadi sektor dengan sumbangan terbesar, yakni 1,20 poin persentase. Berikutnya, perdagangan berkontribusi 0,94 poin persentase, konstruksi sebesar 0,62 poin persentase, serta informasi dan komunikasi mencapai 0,49 poin persentase.
“Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, perekonomian Indonesia pada triwulan III 2026 berhasil tumbuh sebesar 5,47 persen,” ungkap M. Edy Mahmud.
Pada sektor industri, manufaktur mengalami pertumbuhan 5,87 persen. Perkembangan ini didukung industri makanan dan minuman yang meningkat 7,09 persen, industri kimia dan farmasi sebesar 8,10 persen, serta industri logam dasar yang tumbuh 9,94 persen. Peningkatan permintaan dari dalam negeri maupun pasar internasional turut mendorong kinerja berbagai subsektor tersebut.
