Jakarta – Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan peluang penguatan di tengah tekanan pasar global dan ketidakpastian arah kebijakan moneter.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa rupiah masih menghadapi tekanan, tetapi sejumlah faktor domestik memberikan ruang bagi pemulihan.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah berkaitan dengan aksi jual bersih saham oleh investor asing serta kekhawatiran mengenai kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia.
Meski demikian, inflasi dan kinerja perdagangan domestik yang lebih baik dari perkiraan dinilai dapat menahan tekanan tersebut.
Fundamental ekonomi Indonesia juga memperlihatkan sejumlah indikator positif. Neraca perdagangan pada September 2026 mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS, dengan ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS dan impor sebesar 24,23 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi Oktober tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan.
Aktivitas manufaktur turut memberikan sentimen positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026 dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.





