Kiik menduga, Vicky Nahak dan Bripka Cha bertemu omon-omon saja lalu dianggap sebagai pengaduan.
“Kayaknya hanya omon-omon untuk intimidasi wartawan. Sebab, kalo omon-omon dan berlanjut dengan pemanggilan lisan terhadap wartawan kami, ini jelas-jelas intimidasi. Saya minta Kapolres Belu melalui Propam Polres Belu segera menginterogasi petugas Ruang SPKT yang menerima pengaduan Vicky Nahak dan penyidik Tipidter yang melakukan pemeriksaan terhadap Vicky Nahak untuk memastikan benar ada pengaduan atau tidak”, tegas Kiik.
Kiik menegaskan, dengan latar belakang pendidikan ilmu hukum dan pengalaman praktis di lembaga bantuan hukum, dia paham prosedur penanganan sebuah perkara di tingkat kepolisian.
“Dari pengaduan dan laporan masyarakat dapat diketahui siapa pelapor atau korbannya, siapa terlapor atau pelakunya, jenis perkara apa, kapan kejadiannya dan bagaimana peristiwa itu terjadi. Hal ini harus dipastikan kepada wartawan kami Vester AN. Vester dipanggil dalam perkara apa, kapan kejadiannya dan siapa korbannya”, tandas Kiik.
Kiik justru mempertanyakan panggilan Bripka Cha apakah panggilan itu terkait sesuatu tindak pidana atau sengketa pers, tidak jelas. Sebaliknya, yang jelas, penyidik Tipidter justru mengambil dan mem-foto copy tanda pengenal Vester.
