“Setelah lampion dipadamkan dan festival ini berakhir, semangat persaudaraan kita harus tetap menyala. Persatuan itu bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” pungkasnya.
Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena mengapresiasi Mooncake Festival sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat melalui budaya, kebersamaan dan rasa syukur.
“Keberagaman tidak harus memisahkan kita. Justru keberagaman selalu melengkapi dan budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kita dalam mosaik kebersamaan,” kata Melki.
Ia menegaskan pembangunan NTT tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan angka-angka pembangunan, tetapi juga manusia, keluarga, pendidikan, budaya, lingkungan dan kehidupan sosial yang harmonis.
Sementara itu, Ketua PSMTI Provinsi NTT, Hengky Lianto mengatakan Mooncake Festival menjadi ruang untuk merawat keberagaman, mempererat persaudaraan dan memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.
“Ketika saudara kita mengalami musibah, kita harus hadir. Ketika ada yang membutuhkan uluran tangan, kita perlu bergandengan tangan,” ujarnya.
Ketua PSMTI Kota Kupang, Dedy Tanjung menambahkan, festival yang berlangsung 25–27 September tersebut melibatkan 110 tenant UMKM dan 30 sponsor. Perputaran ekonomi selama rangkaian kegiatan diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar, dengan sekitar Rp2 miliar berputar pada sektor UMKM dan berbagai kegiatan selama tiga minggu.





