Hengky menekankan bahwa setiap akun di media sosial mewakili manusia yang memiliki perasaan, keluarga, serta masa depan. Oleh sebab itu, interaksi di ruang digital harus tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak mudah mempercayai informasi hanya karena informasi tersebut viral. Setiap informasi perlu diperiksa kebenaran dan sumbernya sebelum dibagikan.
“Sebelum menekan share, berhenti sejenak. Tanyakan, benar atau tidak, sumbernya jelas atau tidak, dan perlu atau tidak untuk saya sebarkan. Jangan sampai kita menjadi korban hoaks sekaligus menjadi orang yang menyebabkan orang lain menjadi korban hoaks,” katanya.
Selain itu, Hengky meminta anak-anak untuk menjaga privasi dengan tidak sembarangan membagikan informasi pribadi di internet, seperti alamat rumah, nomor telepon, lokasi, aktivitas sehari-hari, maupun kata sandi.
“Internet boleh menjadi tempat menunjukkan karya kita. Tetapi jangan sampai menjadi tempat kita menyerahkan seluruh kehidupan kita,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan Pemerintah Kota Kupang, sekolah, dan keluarga memiliki tanggung jawab bersama dalam menciptakan ruang digital yang aman dan ramah anak. Namun demikian, keberhasilan upaya tersebut sangat bergantung pada pilihan dan kebiasaan setiap individu dalam menggunakan teknologi.
