Sejarah perjumpaan tersebut kemudian menjadi inspirasi utama festival dengan tema “Merajut Budaya dalam Harmoni”.
Antoni mengatakan, festival diharapkan menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bukan sekat, melainkan kekuatan yang dapat mempererat kebersamaan.
“Melalui festival ini, kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” katanya.
Harapan itu sejalan dengan perhatian Pemerintah Kota Kupang agar kegiatan budaya tidak berhenti pada pelestarian tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Suasana festival juga diwarnai kepedulian terhadap masyarakat Flores yang tengah menghadapi bencana alam. Sebelum rangkaian acara dilanjutkan, panitia bersama seluruh jajaran yang hadir menggelar hening cipta sebagai bentuk simpati dan duka cita bagi para korban dan masyarakat terdampak.
Momen tersebut menjadi pengingat bahwa perayaan budaya tidak membuat masyarakat kehilangan kepekaan terhadap persoalan kemanusiaan.
Jeffry mengajak masyarakat terus mendoakan warga terdampak gempa serta menjaga semangat gotong royong dan solidaritas.
Ia juga menyampaikan bahwa beberapa waktu sebelumnya, Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, telah menjalankan misi kemanusiaan selama kurang lebih lima hari dengan mengunjungi enam kabupaten di Pulau Flores.
