“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.
Menurutnya, keberagaman merupakan modal sosial penting dalam membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama. Karena itu, nilai budaya dan sejarah tidak boleh hanya menjadi cerita masa lalu. Keduanya harus terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tetap hidup dan relevan di tengah perubahan zaman.
“Kita tidak sedang mempertahankan perbedaan untuk saling menjauh. Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegasnya.
Jeffry mendorong agar kawasan Kota Tua terus dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat. Dengan demikian, kawasan yang memiliki nilai historis tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang produktif bagi masyarakat hari ini.
“Jadikan Kota Kupang ini sebagai rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesannya.
Pemilihan Pantai Kopan sebagai lokasi festival bukan tanpa alasan. Ketua Panitia, Antoni Niti Susanto, menjelaskan kawasan LLBK merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan Kota Kupang. Kawasan ini menjadi saksi perjumpaan berbagai komunitas dan bangsa, mulai dari masyarakat asli Helong, Portugis, Belanda, hingga komunitas Tionghoa dan Arab.





