Edy menyebutkan industri pengolahan memiliki kontribusi terbesar sebesar 19,22 persen, diikuti pertanian 13,46 persen, perdagangan 13,24 persen, konstruksi 10,20 persen, dan pertambangan 9,19 persen. Dari sisi pertumbuhan, perdagangan meningkat 7,14 persen, konstruksi 6,42 persen, serta industri pengolahan 5,87 persen. Adapun pertanian tumbuh 0,46 persen dan pertambangan 0,91 persen.
Sektor akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 11,22 persen akibat meningkatnya hunian hotel serta aktivitas konsumsi di restoran. Berikutnya, jasa keuangan tumbuh 8,47 persen dan jasa lainnya mencapai 8,32 persen berkat peningkatan aktivitas pariwisata.
Sektor perdagangan menyumbang 0,94 poin persentase, konstruksi 0,62 poin persentase, informasi dan komunikasi 0,49 poin persentase, sedangkan sektor lainnya berkontribusi 2,22 poin persentase.
Di sisi lain, Menteri Keuangan Suahasil Nazara memperkirakan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 tetap tumbuh sekitar 5,5 persen. Proyeksi tersebut didukung aktivitas domestik dan APBN yang berfungsi menjaga stabilitas ketika terjadi tekanan ekonomi.
“Melalui kesinambungan kebijakan dan terjaganya momentum kegiatan ekonomi, kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran 5,5 persen,” tutur Suahasil.
