Alfons Molo: Menyusuri Nekto, Mencatat Luka Pendidikan di Ujung Negeri

Reporter: Alfons Molo 
| Editor: Pisto Bere

Anak-anak duduk di bangku kayu seadanya, memegang buku lusuh, menulis di atas meja yang mulai retak. Namun mata mereka berbinar. Di tengah keterbatasan, mereka masih percaya bahwa sekolah adalah jalan keluar dari sunyi dan keterisolasian.

Di bawah kabut Gunung Mandeu itu, bertemulah dua bentuk pengabdian:

Bacaan Lainnya

guru yang mengajar tanpa upah pasti, dan wartawan yang menulis tanpa kepastian gaji.

Keduanya sama-sama berjalan dalam senyap, bekerja bukan karena materi, tetapi karena keyakinan bahwa pendidikan dan kebenaran harus tetap diperjuangkan.

Dan dari tulisan itulah, Nekto perlahan mulai didengar.

Hari ini, Dusun Nekto tidak lagi sunyi. Satu per satu pejabat datang melihat langsung, aparat pemerintah, tokoh pendidikan, hingga wakil rakyat turun menapaki jalan yang sama—jalan yang sebelumnya hanya dilalui oleh anak-anak dan seorang guru sukarela.

Tulisan sederhana itu menjadi jembatan antara kabut dan perhatian, antara sunyi dan kepedulian. Nekto akhirnya tidak lagi berdiri sendiri. Dari sebuah laporan kecil di ujung negeri, lahir kesadaran besar bahwa pendidikan bukan soal gedung megah, tetapi soal keberpihakan.

Dan di bawah langit Nekto yang masih berkabut, harapan kini mulai menemukan jalannya. (***)

Pos terkait