Menurutnya, “pinggiran” tidak hanya bermakna geografis, tetapi juga menggambarkan kemiskinan, ketidakadilan, penderitaan dan hilangnya harapan.
“Gereja harus berani hadir di jalanan dan di pinggiran, bukan menjadi Gereja yang aman dan megah tetapi mengisolasi diri,” ujarnya.
Ia menilai semangat tersebut tercermin dalam perjalanan pelayanan Romo Leonardus yang tidak hanya berkarya di altar dan mimbar, tetapi juga hadir di tengah masyarakat, mendengarkan, mendampingi dan memperjuangkan mereka yang membutuhkan perhatian.
Melki juga menilai pengalaman Romo Leo dalam gerakan dan organisasi kemahasiswaan, khususnya PMKRI, turut membentuk karakter pelayanan serta kemampuannya membangun relasi dengan berbagai kalangan.
Di tengah perkembangan teknologi dan era disrupsi digital, Gubernur menilai nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan karakter dan peran keluarga perlu semakin diperkuat.
Ketua Panitia, Hendrikus Ara mengatakan perayaan 30 tahun imamat Romo Leonardus tidak berhenti pada seremoni, tetapi diterjemahkan melalui berbagai kegiatan yang menyentuh masyarakat. Rangkaian kegiatan tersebut antara lain pembukaan kebun seminari, aksi panggilan, kegiatan bersama komunitas pemulung, aksi pembersihan sampah, pemeriksaan dan pengobatan kesehatan gratis, donor darah serta bazar.





