Wali Kota Hadiri Bedah Buku Romo Leo Mali: Melihat Kota dari Pinggiran

Reporter: Yesty Ola 
| Editor: Pisto Bere/VD

Baginya, istilah “pinggiran” tidak semata-mata menunjuk pada wilayah yang jauh dari pusat kota. Lebih dalam dari itu, pinggiran adalah cara melihat manusia, terutama mereka yang kurang terlihat, memiliki suara yang pelan, atau belum memperoleh ruang yang cukup untuk didengar.

“Pinggir ini bukan hanya tentang tempat, bukan soal pusat dan pinggir. Tetapi tentang cara pandang terhadap manusia. Cara memandang manusia itu dari pinggiran,” tegasnya.

Bacaan Lainnya

Karena itu, Wali Kota mengajak pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk terus menguji apakah pembangunan Kota Kupang telah benar-benar menjangkau mereka yang berada di lapisan paling bawah.

“Apakah kita sudah melihat Kota Kupang mulai dari pinggir? Banyak dari mereka yang mungkin tidak terlihat selama ini harus bisa kita lihat. Banyak yang suaranya pelan, tidak terdengar, harus kita dengar mulai dari pinggir,” katanya.

Ia menilai semangat tersebut juga memiliki akar kuat dalam ajaran kekristenan. Yesus, katanya, hadir dalam kesederhanaan dan memilih dekat dengan mereka yang miskin, sakit, lemah dan terpinggirkan. Karena itu menurutnya bergerak dari pinggiran bukan sekadar gagasan, melainkan panggilan untuk menghadirkan pelayanan yang semakin dekat dengan manusia.

Pos terkait