Anak yang belum menonjol dalam matematika, misalnya, bisa memiliki kemampuan luar biasa dalam bahasa, olahraga, seni, atau bidang lainnya. Tugas orang dewasa adalah membantu setiap anak menemukan potensinya dan bertumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.
“Jangan hanya melihat anak dari nilai rapornya. Kita juga harus melihat apakah mereka memiliki karakter yang baik, ringan tangan menolong orang lain, berbesar hati membantu sesama, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan,” tegasnya.
Wawali juga menekankan bahwa pembentukan karakter tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Dengan waktu belajar di sekolah yang berlangsung sekitar pukul 06.30 hingga 13.00 WITA, sebagian besar waktu anak justru dihabiskan bersama keluarga dan lingkungan tempat tinggalnya.
Karena itu, nilai-nilai yang diajarkan di sekolah perlu diperkuat di rumah. Ketika sekolah mengajarkan kejujuran, kedisiplinan, dan penghormatan terhadap sesama, keluarga dan masyarakat harus menghadirkan teladan yang sama.
“Kalau kita ingin anak-anak bertumbuh dengan baik, rumah, sekolah, dan lingkungan harus berjalan bersama. Anak-anak tidak hanya membutuhkan pelajaran, tetapi juga contoh nyata tentang bagaimana menjadi manusia yang baik,” ungkapnya.
