Relasi Antara Manusia Ditinjau Dari Perspektif Martin Heidegger dan Implementasi Terhadap Fenomena Human Trafficking

OPINI Oleh: Hilarius Tefa, Benediktus Charloz Dhato, dan Marselinus Sesfaot

Fakultas Filsafat, Universitas Katolik Widya Mandira

carlosdhato@gmail.com

-Pada dasarnya manusia adalah makhluk yang paradoksal yaitu di satu sisi ia adalah makhluk sosial namun di sisi lain ia juga adalah makhluk individual. Individu tetapi juga sekaligus sosial dan itulah hakikat manusia. Manusia adalah makhluk individu yaitu merupakan kesatuan yang tidak terbagi dan tidak dapat dipisahkan. Manusia adalah in-divided. Selain itu manusia juga adalah makhluk sosial yang mana manusia tidak dapat berdiri sendiri dan selalu membutuhkan orang lain “secara mutlak”. Baik sadar ataupun tidak disadari keberadaan manusia tidak bisa tidak karna adanya orang lain. Artinya keberadaan manusia dimungkinkan oleh adanya orang lain yang adalah ada-bersama. Misalnya manusia ada (lahir) karena orang lain, semua kebutuhan baik itu pangan, papan dan sandang juga karena adanya orang lain yang juga memiliki eksistensi. Itulah kenyataan eksistensial manusia bahwa ia tidak bisa tidak berada tanpa orang lain yang selalu menopang manusia itu sendiri. Perkembangan manusia agar menjadi manusia juga melalui keberadaan orang lain. Hal ini dirumuskan secara menarik oleh Adelbert Snijders bahwa “aku menjadi aku karena kamu dan aku dipanggil untuk menjadi aku untuk kamu”. Artinya bahwa eksistensi manusia terbentuk karena relasinya dengan orang lain dan di sini manusia terpanggil juga untuk berada untuk orang lain.

https://31nusantara.id/wp-content/uploads/2025/12/IMG-20251217-WA0045.jpg

Pos terkait