Dari sisi teknologi, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Airlangga (UNAIR), Danar Arifka Rahman menilai penanganan kebakaran di lahan gambut harus menjangkau lapisan bawah permukaan tanah. Hal ini karena api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat menjalar di dalam lapisan gambut. Ia juga menilai restorasi gambut secara berkelanjutan yang didukung pemantauan satelit dan pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini sebagai solusi teknologi yang menjanjikan dalam penanggulangan karhutla.
Pemanfaatan teknologi tersebut dapat memperkuat sistem peringatan dini dan membantu menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih cepat. Namun, teknologi tetap perlu berjalan beriringan dengan perbaikan tata kelola air, pengawasan aktivitas perusahaan, serta pemulihan ekosistem gambut. Tanpa langkah-langkah tersebut, upaya penanganan berisiko hanya berfokus pada dampak kebakaran tanpa menyelesaikan penyebab utamanya.
Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah patut diapresiasi sebagai bagian dari penguatan perlindungan ekosistem gambut. Ke depan, konsistensi pembasahan lahan, pemeliharaan infrastruktur hidrologi, pengawasan perusahaan, dan pelibatan masyarakat perlu terus ditingkatkan. Pencegahan karhutla bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu musim, melainkan membutuhkan komitmen jangka panjang. Dengan menjaga gambut tetap basah dan memulihkan fungsi ekologisnya, risiko kebakaran dapat ditekan sekaligus melindungi lingkungan serta masyarakat dari dampak kabut asap.
